Kita yang Adi Luhung

Posted By on January 30, 2009

alamIndonesia kata orang adalah negara yang penduduknya penuh keramah tamahan, penduduknya masih memegang bagaimana tata krama yang baik dengan adat ketimurannya yang masih sangat kental, dimana budaya sudah mulai banyak terpengaruh dengan ini dan itu, tapi katanya Indonesia ini masih menjadi jati dirinya yang sebenarnya, begitu juga dengan realita dalam hidup bermasyarakat, kaidah-kaidah tentang norma bersosialisasi yang mempunyai martabat kemanusiaan masih sangat dijunjung tinggi, begitulah semua kesan tentang masyarakat Indonesia dengan dinamikanya.

Tapi apabila kita benar-benar melihat realitas yang terjadi saat ini, apakah kesan tersebut masih benar melekat pada diri kita sebagai masyarakat yang katanya mempunyai budi pekerti yang adi luhung? kalau dalam istilah agama Islam, apakah benar Akhlaqul Karimah pada diri setiap insan dipakai dengan baik dalam kehidupan bermasyarakat? itu suatu pertanyaan sekaligus merupakan perenungan pada diri kita masing-masing.

Benar memang kita berbondong-bondong apabila mengikuti acara siraman rohani, benar memang kita banyak juga ibadahnya benar-benar luar biasa,  sampai terlihat jelas tanda bahwa ahli ibadah, benar memang juga saat ada acara yang berbau kemanusiaan banyak dari kita berbondong untuk berpartisipasi, semua kegiatan yang dengan harapan bisa menjadikan kita punya kepribadian yang adi luhung, berakhlaq karimah ramai diikuti dan diramaikan.

Sekilas realita ini sangat menggembirakan bagi kita semua, berarti terlihat bagi kita bahwa mayoritas ternyata masih punya hati yang baik dan kepekaan yang luar biasa untuk menjadi baik dan berprikemanusiaan, tapi apa iya seperti itu ? Saya juga teringat pesan guru saya, pertama, hati-hati kalau kita ini sudah mengutamakan amal maka itu akan sangat rentan dengan kesombongan, membangga banggakan diri, dan kalau sudah begitu, dari sanalah awal suatu kehancuran kita, hati akan menjadi buta, segi-segi keikhlasan diri sangat jauh, yang ada adalah dengan itu semua supaya membuat eksistensi diri lebih baik, yang dinginkan adalah pengen dilihat baik, terkenal,  dapat pujian, akhirnya orang  pada berbondong-bondong untuk ini dan itu, tapi kalau tidak mempunyai efek yang menguntungkan pada dirinya, ya nanti dulu, wong ndak ada profit dan benefitnya kok. Kedua beliau berbepesan, akhir jaman ini orang itu yang didahulukan adalah kepentingan-kepentingannya belaka, hati-hati dengan orang yang seperti itu dijaman sekarang ini, banyak yang hanya memakai topeng saja dalam aktifitasnya.

Sangat memprihatinkan memang, dimana suatu potret bangsa yang berkepribadian adi luhung yang berakhlaqul qarimah, pada kenyataannya hanya topeng belaka, kebaikan hanya merupan jalan untuk memuluskan suatu keinginan saja, bukan keikhlasan lagi yang dipegang, sehingga realitanya orang  akan berlomba-lomba tenar, misal dalam pengajian, masing-masing akan pamer2an pembicara, bukan lagi mengutamakan tujuan pengajian lagi, kalau ada orang yang beramal, saling pamer banyak-banyakan, kalau perlu publikasi besar-besaran untuk sumbangannya, begitu ada orang yang menyainginya, karena sudah tidak lagi keikhlasan, maka gusar, akhirnya fitnah, gunjingan dan banyak hal demi menyaingi tadi

Semua terjadi karena kebiasaan diri  sudah jauh dari keikhlasan inilah yang akhirnya menjadi kebiasaan berperilaku, karena biasanya kebaikannya berharap dapat profit dan benefit, sehingga disaat ada orang lain berbuat baik, maka secara langsung pasti pikirannya itu wah sudah dapat profit berapa dan benefit apakah dia, padahal tidak dapat profit dan benefit apapun, karena yang dicari hanya ridlonya Illahi Robbi saja, inilah yang benar-benar memprihatinkan kata guru saya, karena para pendahulu kita ini jauh dari itu semua, mereka saat berkorban tidak ada pikiran apapun, hanya berjuang, tidak berfikir supaya kelak jadi terkenal

cimg5361_resizeUntuk menjadi manusia yang berkepribadian adi luhung yang beraklaq karimah, semoga kita bisa menjadikan  para pendahulu  sebagai suri tauladan yang baik dalam bermasyarakat, sehingga yang kata orang kalau indonesia itu punya kepribadian yang luar biasa  tidak hanya sebuah topeng belaka, tapi semua adalah benar adanya, karena bagaimanapun semua yang kita miliki adalah titipan belaka, sangat tidak layak bagi kita untuk dibangga banggakan, apa yang kita kerjakan dalam kehidupan bisa dilandasi keikhlasan, karena kelak itulah yang menjadi bekal untuk menghadap Sang Pencipta, lihatlah bagaimana seorang tukang parkir di hotel mewah, dia tidaklah risau kalau mobil-mobil mewah yang diparkir disana terus diambil lagi pemiliknya, karena bagi sang tukang parkir adalah semua mobil itu hanya dititipkan ditempat parkir lahan tempat dia menjaga.

About The Author

Comments

7 Responses to “Kita yang Adi Luhung”

  1. fithraw says:

    Subhanallah…
    semoga tidak hanya menjadi sekedar wacana dan menjadi manfaat bagi sesama…
    amiiin… :D

    PERTAMAXX

  2. just Bryan says:

    Jadi intinya jadi tukang parkir aja..hehehe
    Belajar dari tukang parkir maksudnya..
    Mari sama2 berusaha jadi pendahulu yang baik..

  3. wah, rumit juga nih, mas novi. bangsa kita dulu memang dikenal karakter ramahnya, sampai2 membuat dunia mengaguminya, tapi belakangan ini agaknya keramahan itu berubah jadi kemarahan, keadaban berubah menjadi kebiadaban. agaknya perlu dimulai dari diri sendiri dan keluarga kita utk mengembalikan karakter bangsa secara kolektif.

  4. azaxs says:

    Itulah Indonesia kang Novi….

    Sejarah telah mencatat.. dan tulisan ini betul2 memaksa kita untuk betul2 mengakui realitas….

    Semoga bisa terselamatkan :)

  5. Saya kira masih banyak kok orang-orang yang masih menjunjung tinggi norma-norma keadilan, kejujuran dan masih mempertahankan esensinya sebagai bangsa indonesia. ya kayak mas Nopi ini misalnya. hehehe

  6. I uncovered your web page via search motors even when looking for for the connected topic, your web page demonstrated up up. give many as a consequence of you for the fabulous blog. Amazingg skills! hold on man, you rock!

Leave a Reply