Guru yang terlupakan dan Terabaikan
Posted By dunianopy on July 5, 2011

Pada pembuka postingan saya kali ini, ingin rasanya mengutip sebuah hadist dari Nabi yang mulia dan panutan diri, sebuah hadist yang sangat terkenal yaitu “ Tuntutlah ilmu dari lahir sampai liang lahat “. Sebuah hal yang mesti kita jadikan sebuah landasan dalam hidup ini bahwa tidak ada waktu selama hidup ini untuk meninggalkan kewajiban diri untuk belajar, dan kewajiban ini tidak akan pernah berhenti sampai kelak kita kembali keharibaan Illa Hi Robbi yang semoga dalam keadaan Khusnul Khotimah, Amin.
Belajar, ini sebuah hal yang pasti kita lakukan. Untuk belajar bermacam hal dalam kehidupan, kita memerlukan sosok yang dapat membimbing diri supaya jadi lebih baik, dan sosok yang ada tersebut adalah para guru yang dengan sangat besar jasanya pada kita, sehingga sampailah diri ini pada kondisi yang seperti sekarang dengan berbagai macam romantika diri. Karena bimbingan itulah, jadinya diri ini mengenal mana yang baik, mana yang buruk serta mengenal banyak hal di muka bumi yang sebelumnya kita belum mengetahuinya.
Sosok guru seringkali merupakan sebuah figur yang selalu kita ingat, bahkan merupakan sosok yang kita muliakan karena jasanya, ketika bertemu beliau-beliau tersebut, tak segan diri ini menyambut dengan penuh taqdimnya dan hormat, sehingga mencium tangan beliau tersebut serasa diri ini mendapatkan sebuah keberkahan yang tak terkira, dan ini semua saking mulia nya sosok guru tersebut dalam diri ini.
Guru selalu identik dengan sosok yang wajib kita hormati, dan itu sudah merupakan sebuah kewajiban dan hal paling fundamental dalam diri. Ketika guru merupakan sosok yang seperti itu, secara tidak langsung diri ini melupakan satu hal yang paling penting dalam hidup, bahwa dalam kehidupan ini, sosok guru yang mengajarkan untuk jadi lebih bermaknanya hidup tidak hanya dari beliau-beliau tersebut. Dalam sebuah tulisan yang sangat indah, Khalil Gibran menuliskan bahwa : Aku belajar diam dari yang cerewet, toleransi dari yang tidak toleran dan kebaikan dari yang jahat. Namun anehnya aku tidak pernah merasa berterima kasih kepada guru-guruku ini.
Sosok yang terlupakan dan bahkan ternyata sangat mungkin tidak dianggap sebagai guru dalam kehidupan ini, atau bahkan sosok yang mengajarkan jadi orang diam, toleransi dan kebaikan seperti yang ditulis Khalil Gibran sering mungkin itu adalah sosok orang yang paling dibenci, dan letak dendam itu terbentuk dalam diri, bahkan mereka adalah sosok yang tidak ingin dijumpai lagi karena konon telah membuat sakit hati .
Saat sedikit kita menundukkan wajah dalam keheningan dan merenung dalam diri, dengan kebersihan hati, maka sebenarnya kalau jujur dalam diri masing-masing, maka akan terlihat dengan jelas, bahwa sosok orang seperti mereka itu juga tidak kalah besar jasanya dalam diri ini untuk menjadi sosok yang lebih baik dalam kehidupan, selain guru yang memang kita hormati dan muliakan. Bahkan kalau mereka adalah golongan sosok yang sangat dimusuhi pada kehidupan, itu sebenarnya salah besar, karena sosok mereka adalah justru juga merupakan tidak layak diri memusuhinya, tapi mereka adalah sosok yang wajib kita berterima kasih, karena merekalah kita lebih cepat belajar untuk lebih baik lagi. Nah kembali pada diri ini, apakah mereka semua itu sosok paling kita benci ataukah sosok yang paling membuat kita berterima kasih dan memberikan senyum terbaik kita bagi mereka ?





gambarnYa bagus (bagian kepala posting), salam kenal…
kadang2 kita lupa akan jasa para guru yang dahulu telah membimbing kita …
semoga allah melindungi para guru
setelah baca artikel ini saya jadi rindu sama guru – guru saya
semoga mereka (guru) diberikan rezeki yang cukup dan sehat selalu
makasih ya pak artikel yang sangat bermanfaat
terrific stuff! i like to read this kind of stuff daily