S A P yang menyesatkan hidup

Posted By on February 16, 2012


Dalam kehidupan ini, semua pasti menginginkan supaya dalam menjalani segala aspek itu mendapatkan kesuksesan, benarkan demikian? Kalau itu yang ditanya, kelihatannya kita  akan banyak yang sepakat, bahwa kesuksesan menjadi keinginan setiap orang di muka bumi ini, sehingga banyak cara orang untuk meraih kesuksesan dalam hidupnya.

Kesuksesan dalam hidup memang hal yang diinginkan banyak orang, tapi permasalahan banyak sekali dalam meraih kesuksesan mengalami kesulitan yang mesti dilalui dan ini sangat sering kita alami, pada kenyataannya dari kesulitan ini, ada yang berhasil melaluinya tapi juga tidak sedikit yang akhirnya harus gagal di tengah jalan karena tidak berhasil melalui kesulitan berupa rintangan yang ada.

Dilematis memang jika saat kita menginginkan sebuah tujuan dalam hidup kemudian di tengah jalan gagal karena ternyata kita semua ini tidak siap dengan apapun yang menjadi penghalang di jalan saat kita berusaha meraih keinginan tersebut. Tapi itulah kenyataan yang memang terjadi sebagi hal yang benar-benar terjadi walaupun itu sangat dilematis dan menyedihkan.

Kalau kita lihat lebih dalam lagi, kenapa sih kok banyak dari kita mengalami kegagalan demi kegagalan, sehingga rasanya sangat sulit untuk mendapatkan apa yang diinginkan pada kehidupan yang sedang dilalui ini? Jika itu yang menjadi pertanyaan besar kita semua, maka paling tidak saat ini sedikit merenugi sejenak apa yang sudah kita lalui sebagai proses segala tindakan pada keseharian kita masing-masing.

Saat semua perjalanan hidup ini dikoreksi, ternyata ada suatu kebiasaan dalam diri kita ini yang menyebabkan apa yang dilakukan akan lebih banyak gagalnya daripada berhasil. Ada sebuah penyakit yang cukup kronis ternyata. Penyakit yang sedang kita semua ini miliki adalah dikenal dengan     SAP, ya ini lah penyakit yang kita miliki dan cukup kronis dalam diri sehingga kegagalan menjadi sebuah keniscayaan. SAP itu sebuah kependekan yaitu S adalah Salahkan, A adalah Alasan dan P adalah Pembenaran.

Mari kita coba bersama lihat diri ini, dengan mudahnya setiap saat kita menghadi hal yang tidak enak, cenderung tidak sportif, Salahkan orang lain pada keadaan tidak mengenakkan pada kita, atau cenderung mencari – cari alasan supaya terbebas dari tanggungjawab. Yang terparah adalah mencari pembenaran sebagai hal yang membenarkan apa yang sudah kita lakukan, walaupun itu jelas-jelas salah

Semua kesuksesan diawali dari keberanian diri saat sudah memilah, memilih sehingga memutuskan sebuah tindakan apapun itu, maka haruslah berani bertanggungjawab atas semua yang sudah kita putuskan tersebut. Permasalahannya bahwa apakah kita sudah berani bertanggungjawab, ataukah Cuma beraninya SAP itu dalam diri? :)

About The Author

Comments

7 Responses to “S A P yang menyesatkan hidup”

  1. adiarta says:

    rasanya saya sudah berusaha melakukan yg terbaik dan mencoba brtanggung jawab dgn keputusan yg saya ambil. tapi, rasa malas dan ego yg belum bisa saya hilangkan kadang masih membuat saya melakukan SAP itu… hehehee….

  2. adhe goblog says:

    sepertinya kalo saya menempatkan diri seperti posting njenengan ini, sepertinya saya dilahirkan di kebudayaan yang tidak tepat, dan saya harus berani melawan kebudayaan yang kita anggap ga bener itu. biar emosi rasa bersalah itu lepas

    BTW, aku suka blog njenengan mas. mengajak pembaca ikut interaksi, berasa diajak ngobrol. hehehehee

  3. rian says:

    berani mengambil keputusan berarti harusnya berani mengambil akibat dan risiko keputusan tersebut.

    inspiratif banget. makasih mas nopy :D

  4. farizalfa says:

    Bagus juga pengetahuan seperti itu, kita akan diajarkan bagaimana bertanggung jawab atas semua hal yg kita lakukan walaupun sekecil apa-pun pekerjaan itu.

  5. kombor says:

    kadang menggunakan SAP itu memang paling mudah. untuk menanggulanginya, ukuran sukses sebaiknya ditentukan sendiri, tentukan tujuan jangka pendek, menengah dan panjang yang hendak kita capai dan kriteria sukses atau tidak sukses kita rumuskan dari tujuan-tujuan yang sudah kita tetapkan itu.

    jangan menilai diri tidak sukses apabila kita tidak pernah memiliki tujuan untuk dicapai. jangan pula menilai sukses atau tidak sukses dibandingkan dengan pencapaian orang lain karena setiap orang itu unik, memiliki skill set dan belief set masing-masing. bisa saja kita memandang orang lain sukses padahal orang yang kita pandang itu menilai dirinya sendiri belum sukses.

    terlepas dari itu, menurut andrie wongso, sukses adalah hak kita. oleh karena itu, kita semua berhak untuk meraih sukses.

    salam sukses luar biasa!

  6. Fattah says:

    yah, itu memang kenyataan yang senyatanya ada dilapanga. kebanyakan orang hanya bisa menyalahkan, membuat alasan cekak, serta melakukan pembenaran atau menghindari bahwa dirinya sebenarnya salah.

Leave a Reply