KEBUTUHAN DAN KEINGINAN

Untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan, ada sebuah ilustrasi cerita seperti ini “suatu saat ada yang mengundang kita untuk makan makan karena sedang berulang tahun, dia menyampaikan kepada kita hei nanti saya ulang tahun akan mentraktir kalian semua, kita nanti jam 7 malam kumpul terserah kalian mau saya traktir dirumah makan manapun silahkan kalian milih nanti akan saya traktir kalian makan apapun sepuasnya.” Begitu kita mendapat tawaran itu, langsung dalam pikiran kita kemana ya, dan perasaan kita pun sudah melayang-layang wah enak ya rasanya kita akan makan besar dimana saya akan makan, kemudian berfikirlah kita dimana kita akan makan yang enak. Waktu pun berlalu pada saat kita berada dirumah dan itu sudah jam 5 sore tinggal dua jam lagi, kemudian ternyata pada jam 5 sore itu perut kita terasa sangat lapar dan kita ini melihat kondisi seperti itu harus makan maka bergegaslah mencari makanan yang ada di dapur. Pada saat ada di dapur dibukalah tudung saji yang ada di meja makan ternyata disana ada nasi, tempe tahu, sambal, dan kerupuk. Perut ini melilit, sudah minta untuk dimasuki makanan apalagi kalo sampe terlambat bisa maag nya kambuh sehingga apa yang dilakukan pasti sudah tidak menunggu berlama- lama lagi. Ambil piring masukkan nasi, lauknya, dan kita makan dengan lahap. Saking laparnya, tak terasa dua piring kita habiskan, kita sampai nambah dan perut terasa kenyang.

Setelah itu waktupun bejalan sampai pada pukul 7, waktu yang telah ditunggu-tunggu datang  untuk kita makan besar. Tetapi pada saat itu perut ini ternyata masih sangat kenyang karena tadi sudah makan sampai habis sebanyak dua kali, dua porsi, dan nasi nya pun banyak karena saking laparnya. Apa yang kita pikirkan sudah tidak sama dengan apa yang awal ditawarkan, apa yang kita rasakan pun demikian. Diawal kita ingin sekali makan yang enak di rumah makan yang mantep, menu nya yang mantep mumpung ada yang bayarin tetapi begitu perut kenyang, jangankan makan yang biasa-biasa saja jangankan makan yang ada semua sudah tidak kita harapkan untuk masuk perut ini karena sudah penuh. Inilah ilustrasi kita melihat mana keinginan mana kebutuhan. Kalo kita bicara keinginan maka kita akan berfikir bagaimana kita memenuhi apa yang terbesit dalam pikiran kita untuk makan yang enak, di rumah makan yang enak, yang bagus dengan menu yang luar biasa. Tetapi ketika dibutuhkan perut kita makan pada saat itu hanya ada tempe, tahu, dan kerupuk dua piring pun habis kita lahap. Dan perut pun sudah terpenuhi kebutuhannya. Dan ketika sudah terpenuhi dibutuhkan oleh perut ini, keinginan yang mengggebu-nggebu sudah jauh sangat jauh dari apa yang betul-betul kita butuhkan tadi. Sehingga sudah tidak bernafsu lagi kita untuk memenuhinya.

Maka dari itu bijaklah kita untuk menetukan apa yang kita butuhkan dan untuk kita penuhi. Terjebak dengan keinginan hanya akan menyebabkan hidup kita semakin susah. Karena tidak akan ada habisnya keinginan demi keinginan. Karena keinginan itu tidak lain hanyalah lebih banyak sebagai pemuas nafsu kita belaka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*