BELAJAR DARI KOTA BOGOR

Cerita ini bermula kebetulan waktu itu saya ada perkerjaan kota bogor. Kebetulan sekali saat itu saya berjumpa seseorang lelaki yang masih muda usianya, dia kelahiran. awalnya kami berkenalan biasa saja tanpa ada pesan yang special apapun pada diri anak yang satu ini, namanya juga baru saja kenalan, tentu obrolan kamipun hanya sekedar basa-basi yang tidak jelas kesana kemari, alias ngelantur, tentang bagaimana lika-likunya serta banyak hal yang sudah didapatkan.
Sambil menunggu final sepak bola yang dimulai setengah dua dini hari, obrolan yang awalnya ngelantur kesana kemari, mulai berbelok pada sharing pengalaman hidup yang telah dilalui selama ini, suka dan dukanya, kesemuanya ini saat cerita tersebut mengalir, tenyata membuat saya sangat kaget dan seakan tidak percaya tentang apa yang sudah dia lalui.
Perjalanan hidup sangat pahitn sudah dimulai semenjak masih duduk disekolah dasar, untuk memenuhi kebutuhannya harus bergelut dengan ketidak ramahan dijalan, sebagai anak jalanan, harus ngamen terus juga berjualan koran untuk dapat makan, untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup dirinya serta keluarganya, dimalam hari menjadi bartender dan berkecimpung dengan dunia malam, dari sini secara tidak langsungpun akhirnya ikut terjerumus dengan dunia hitam kelam, apapun yang namanya kelamnya hidup sudah pernah dilakukan. Mendengar itu, saya cuma bengong saja, diapun berkisah kalau saat ini dia memulai dengan kehidupan yang baik dengan berharap masa depan jauh lebih baik, walaupun terasa lebih berat, karena dulu untuk mendapatkan uang tiap hari 1 juta sangat mudah, tapi sekarang tiap bulan cuma dapat menghasilkan uang 300 ribu sampai 500 ribu saja, dengan menjadi marketing sebuah produk kesehatan.
Teman-teman semua, dari perjalanan hidup itu, malu rasanya diri ini, seorang anak muda dikota yang besar, harus dapat hidup dengan baik hanya dengan uang yang maksimum cuma 500 ribu, itu dilakukan dengan penuh riang dan ridlo, lihatlah diri kita, sesulit apapun, kendaraan masih punya, makanan pun sering pilih-pilih, kalau tidak enak tidak mau makan, fasilitas hidup banyak sudah kita rasakan dengan berbagai kemudahan, tapi tetap saja dengan semua itu masih sering protes pertanda ketidak puasan, serta diperparah keegoisan diri yang merasa lebih.
Kita ini masih beruntung dengan yang dimiliki saat ini, bayangka bagaimana dapatkah kita hidup dengan sebulan cuma 500 ribu itu maksimum, duit pulsa kita saja biasa jadi separuhnya, belum makan, jajan, uang bensin, pastilah tidak cukup. Renungkanlah contoh ini,karena di luar sana masih banyak yang seperti itu, bahkan dapat lebih parah, untuk itu layakah kita sering protes dengan semua yang sudah di dapatkan???

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*