Kuliah dan kesuksesan, dilema dunia kampus antara realita dan impian

Ketika Ujian Nasional sudah mengumumkan siapa saja yang lulus dan yang tidak lulus sekolah di jenjang SMA atau yang sederajat, mulailah sebuah kesibukan baru para pemuda lulusan SMA ini untuk mengejar jenjang pendidikan diatasnya, yaitu menjadi seorang mahasiswa di kampus yang mereka dambakan sesuai jurusan kesukaan mereka. Ada sebuah harapan besar yang dibawa seorang yang memulai jalan hidupnya sebagai seorang mahasiswa, tidak lain adalah untuk mendapatkan masa depan lebih baik dan meraih apa yang menjadi cita-citanya. Orang tuapun tidak jarang merelakan untuk siap mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk putra putrinya masuk di perguruan tinggi idaman sampai meraih predikat sarjana. Alasannya pun sama, mereka ingin masa depan putra putri nya menjadi lebih baik setelah menjadi sarjana.

Sebuah harapan besar untuk masa depan lebih baik sebagai sarjana telah menjadi  kondisi yang tidak dipungkiri merupakan realita dalam masyarakat kita, anggapan bahwa sarjana menjadikan seseorang akan lebih sejahtera, lebih sukses, menjadi pemahaman mayoritas saat ini dan mungkin sampai di masa yang akan datang. Seseorang rela menyiapkan puluhan juta rupiah, bahkan ada yang sampai menjual rumah, sawah, hewan ternak, mobil untuk modal putra putri mereka menjadi sarjana.

 Saat harapan besar sebagai sarjana akan mampu membawa masa depan lebih baik, ada pertanyaan besar bahwa, benarkan sarjana membawa kita seperti yang diharapkan? Fakta yang ada sampai saat ini menunjukkan bahwa puluhan bahkan ratusan ribu sarjana belum mendapatkan harapan itu, salah satu indikator yang kasat mata adalah, acara job fair selalu padat yang datang untuk berbondong bondong melamar pekerjaan. Miris sebenarnya, tapi itulah kenyataan, belum lagi ketika mendapatkan sebuah pekerjaan, gaji yang didapatkan masih sangat jauh dari yang diharapkan, karena sebagai fresh graduated dan belum punya pengalaman, mana ada perusahaan yang akan memberikan gaji yang besar.

Proses menjadi sarjanapun sering juga tidak mendidik seorang mahasiswa menjadi generasi yang siap bersaing di dunia profesional, bahkan cenderung hanya menjadi pengejar IPK yang bagus, tanpa memahami esensi pembelajaran, sehingga ini kemudian menciptakan proses pembelajaran “Do It and Forgeted, lakukan kemudian lupakan”. Ketika transkrip nilai sudah dibagikan dan penuh nilai yang baik bahkan istimewa, mahasiswa cenderung merasa sudah aman dan pandai dalam disiplin keilmuan yang nilainya baik tersebut, padahal benarkah demikian?

Keilmuan yang masih sangat dangkal, proses edukasi yang tidak menciptakan generasi berdaya saing, pengalaman yang juga masih sangat kurang, tetapi disisi lain berharap ini semua menjadi bekal cukup dalam memenangkan persaingan, konyol sekali hal itu, tapi ini lah yang dirasakan saat ini oleh banyak pihak, diterima atau tidak menjadi kenyataan saat ini. Hal lain juga dengan kemudahan diberbagai sektor berakibat seseorang menjadi lebih menikmati kenyamanan, akhirnya menciptakan generasi lemah, mudah putus asa dan tidak berani dalam menghadapi tantangan yang berat.

Dilema demi dilema ini kenyataan yang hadir ditengah harapan besar bahwa sarjana akan membawa seseorang mempunyai masa depan lebih baik, sehingga kalau kita pahami kembali kondisi yang dilematis ini, apakah layak tetap berharap bahwa sarjana akan membawa masa depan lebih baik, atau mulai melirik cara lain untuk punya masa depan yang lebih baik tanpa embel embel sarjana?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*