Berbagi itu kok susah ya sekarang?
Posted By dunianopy on July 2, 2010

Jaman sudah berubah, setiap hal yang ada sekarang, seringkali mesti dinilai dengan uang, sehingga sering kali kita dengar ungkapan, Uang memang bukan segalanya, tapi segalanya tidak dapat dibeli tanpa adanya uang. Jaman materialistis sekarang ini yang paling membuat diri kita sedih adalah, sulitnya sekarang kita mendapatkan atau bahkan bisa menemukan orang-orang yang mempunyai jiwa sosial tinggi, jauh dari berhitung ini dan itu.
Bahkan di jaman sekarang ini, untuk mendengarkan tausiyah agama, dari para ‘Ulama saja itu mesti dibayar dengan harga yang cukup mahal, belajar mengaji, dan belajar memperbaiki diri itupun mesti dibayar mahal, sehingga cenderung ilmu itu jadi bahan komersil. Sangat jauh dengan budaya para pendahulu kita yang senang berbagi ilmu. Sangat memprihatinkan memang jika kita lihat realitas yang seperti itu. Disaat seharusnya dengan semangat berbagi untuk sesama, banyak hal bisa dikerjakan, tapi kenyataannya sekarang, semangat berbagi itu lebih banyak hanya pemanis lidah saja tanpa realisasi, dan jika realisasipun sering masih berpamprih.
Bahkan sekarang, jangan pernah bermimpi kita bisa mendapatkan segala pendidikan yang bagus jika tidak punya uang yang banyak juga. Sehingga sekarang ini orang yang pinter akan semakin pinter dan yang kaya akan semakin kaya, tetapi orang-orang yang kurang beruntung nasibnya… ya akan begitu seterusnya, malang benar nasibnya.
Saya bukan orang yang tidak setuju dengan mahalnya pendidikan atau pelatihan-pelatihan tersebut, tapi hendaknyalah kita bisa melihat, dengan kepekaan sosial yang tinggi, untuk bisa tidak hanya membedakan strata sosial orang-orang sekitar kita, tapi juga bisa menjadi jalan terangkatnya mereka, seperti kita bisa mengangkat orang-orang yang beruntung untuk lebih beruntung, tanpa merendahkan derajat mereka.
Para Ulama’ yang udah terkenal, kalau diundangnya sama orang biasa, ya legowo lah dengan apapun yang didapat, walaupun juga tanpa diberi uang transport, para orang pandai, jangan hanya buat pendidikan ini dan itu, pelatihan ini dan itu dengan harga selangit, tapi coba ulurkan tangan untuk menggunakan ilmu yang dimiliki buat yang kurang beruntung, tanpa mengurangi kualitas keilmuan, walaupun itu berat dan hitungan rasional nya rugi.
Indahnya dunia ini kalau kita saling berbagi dengan semua yang ada di sekitar kita, dan itu semua tidak hanya Cuma dipakai sebagai pemanis lidah saja, tapi benar-benar menjadi realita dalam hidup kita




lha nguyoh ae mbayar je
nek awak cilik koyo aku ngene.. opo jal sing arep dibagi…
asemik… Juni 2010 prei ngeblog blasss…
niate gak sah berbagi mas! niate enjoy ajah! (haha)
sumpah! aku seneng banner “blogger kok diatur”…
iku kata-kataku waktu amprokan blogger… hehehe…
jenengan udah berbagi rejeki blum dengan saya? hihihi
termasuk rejeki duit… hahaha
haaaa… akhire update blog
Bagi2 lagi yuk sama santri alhikmah 2,,,,,,,
kapan maen lagi PAk yai,,,,,,
mksh bwt artikelnya, yg mngingatka kembali hakekat kehidupan, yaitu berbagi. Bener sekali, di zaman yang katanya “serba edan” ini, rasanya sulit untuk menemukan orang yang tulus berbagi, tanpa imbalan apapun, (kecuali ucapan terimakasih). Namun, bukan berarti tidak ada orang yag tulus, saya yakin di dunia yang luas ini masih ada orang-orang yang peka dengan suara hatinya(artinyasuara hati terdalamnya masih perduli, masih ada rasa cinta dan kasih terhadap sesama. Semoga, kita semua termasuk bagian dari orang-orang itu ya:)
Lihat saja, matahari tanpa kenal lelah berbagi cahaya untuk semua insan di bumi ini, seharusnya keadaan ini dapat kita renungkan kembali, sehingga kita bisa mencontohnya, ok..