Ketika para Penerima amanat sudah tak bisa lagi dipercaya
Posted By dunianopy on November 9, 2009

Terus terang saya sebenarnya paling malas untuk menulis keadaan tentang kondisi suatu bangsa, khususnya bagaimana para aparatnya, karena terus terang itu suatu bahasan yang paling tidak mengenakkan dalam diri saya, karena paling-paling nanti bahasannya kalo ndak tentang pujian karena -mereka yang berhasil ya hujatan karena kegagalan, seputaran itu –itu juga lah bahasannya. Tapi sekarang sedikit pengen nulis tentang itu semua beserta romantikanya, ya sebelumnya kalau bernada kebaikan semoga bisa buat semangat menaikkan kualitas, tapi jika bernada jelek jangan tersinggung, tapi dibuat instropeksi untuk diri kita semua.
Dulu sewaktu menghadiri sebuah acara majelis yang mulia Alhamarhum guru saya, ada satu hal fenomena yang membuat hati ini bergetar karena benar-benar sangat terharu, hati yang terharu ini karena tak lain di tengah-tengah majelis tersebut juga banyak sekali dihadiri selain para alim ‘ulama ada para pejabat yang hadir di situ, semua larut dalam heningnya dzikir serta khusyuknya menyimak ceramah yang ada, bahkan banyak diantara beliau-beliau itu secara tidak sadar mengeluarkan air mata, yang saya yakin air mata itu bukanlah direkayasa, tapi benar-benar tulus dari penyesalan hati yang terdalam. Saat itu dalam hati berkata, bahwa jika bisa larut dalam majelis yang seperti ini, berarti sungguh luar biasa kebersihan hati diri beliau-beliau itu, sehingga kebanggaanpun muncul dalam diri bahwa bisa memiliki para pejabat yang bermoral dan berakhlaq karimah, karena dengan bekal itulah pasti amanah yang diembankan dapat dikerjakan dengan penuh tanggungjawab, sifat lemah lembut dan dapat bergaul dengan siapapun tanpa pandang siapa dia dan kepentingannya seperti yang diajarkan yang mulia Almarhum guru bisa menjadi “ruh” dalam berperilaku beliau-beliau ini.
Pandangan tersebut menjadi dasar saya dalam menilai beliau-beliau tersebut yang menurut saya layak dijadikan panutan kita semua yang pastinya pengabdian pada masyarakat hanya mengharap ridlo Illa hi Robbi semata. Waktu terus berjalan yang ternyata kalau dulu dengan pandangan yang seperti itu membuat hati ini terharu dan menitikkan air mata karena puji syukur, sekarang air mata itu menetes lagi, tapi tidak dengan kondisi yang sama, tapi benar-benar sesuatu yang membuat kecewa dan sangat sedih. Ketika para penerima amanat yang ada lebih banyak memakai segala atributnya bukan lagi untuk pengabdian pada masyarakat tapi untuk pengabdian bagi dirinya sendiri alias untuk kepentingan diri dan golongannya, sungguh hal yang sangat menyedihkan, kondisi ini membuat kita semua sangat terpukul, sedih dan sudah tidak bisa dikiaskan lagi luka hati ini. Ditangan para pemegang amanah itu, semua sudah banyak diselewengkan, yang benar bisa jadi salah, begitu sebaliknya, kita akan lebih diperhatikan dan diprioritaskan oleh beliau-beliau itu jika memang ada sesuatu yang bisa membawa keberuntungan, sehingga prioritas itu bukan lagi karena sesuatu demi kemaslahatan, tapi lebih banyak pada banyaknya manfaat buat diri, sehingga kita akan dapat bersanding bahkan berdekatan dengan beliau jika kita bisa memberi nilai lebih buat beliau-beliau, kalau tidak, jangan harap itu terjadi, paling juga saat untuk liputan media saja terlihat seakan-akan itu bentuk kepeduliannya, dan diluar itu, nanti dulu.
Pertanyaan yang selalu muncul dalam hati, terus mana bekas dari majelis-majelis itu? Mana buah dari tangis itu ? Mana tanda keseriusnya saat mendengarkan ceramah? Kemana berkah para ‘Alim yang tercurahkan dalam majelis itu? Yang semestinya itu bisa menjadikan dasar bersikap untuk jadi lebih baik dalam mengemban amanat. Jadi, ketika penerima amanat sudah tak bisa lagi dipercaya terus bagaimana dengan kita? semoga ini buat koreksi kita semua untuk menjadi yang lebih baik, amin




amien….dan semoga kita bisa melek lebih lebar pak
Amien
Betul Mas… pada nggak inget ya kalo mereka itu disumpah sebelum dilantik?
Innalillahi..
itulah yang membuat saya ngelus dhadha, mas nopy, kaum elite yang seharusnya bisa jadi teladan dan rujukan kawula alit, doh, malah cakar2an, lebih2 aparat penegak hukum itu. mereka ternyata malah lebih jago dalam berakting ketimbang pemain sinetron, wakaka …
Pertama, saya mau protes keras dulu tentang postingan ini. Kenapa tidak diberitahu awal. nga bisa Pertamax…………
Hmm. saya protes juga.. kenapa saya yang diberitahu yang kedua…
itulah bang, jangankan para pejabat saya sendiri juga kerap mengalami hal demikian, apa lagi mereka yang sehari - harinya selalu berhadapan banyak godaan
wes golek slamet dhewe-dhewe ae mas, lek gak isok golek jamaah…
Baik buruk benar salah pahlawan penjahat itu sunattullah …. la kalau buruk salah penjahat semua … terus bagaimana ini …. ??????!!!!
ikuit mengamini
aminnnnn
amien…,,,biasane nek doa ne pak yai ki..manjur.., betul gak pak yai novi???