Menata hati dari sandal
Posted By dunianopy on February 1, 2010

Ada satu hal yang membuat perenungan bagi diri saya, yaitu saat suatu ketika ada seorang teman baik menulis status singkatnya di Friendsternya. Saat itu statusnya tersebut sangat sederhana, dan mungkin kalau sekilas saja dibaca, kata-katanya tidak membawa arti apa-apa. Status itu bertuliskan “Noto Ati Soko Sandal” yang dalam bahasa Indonesia bermakna “menata hati dari sandal”.
Sekali lagi, sekilas tidak ada yang istimewa dari kata ini awalnya, tapi kata-kata ini menjadi sebuah hal yang spesial bagi saya, kenapa kata ini spesial dan menjadi sebuah perenungan bagi diri saya pribadi, sedikit saya akan bercerita kenapa ini jadi spesial, yang mungkin juga cerita ini tidak luar biasa sebenarnya.
Suatu hari, saat saya pergi ke suatu tempat dengan berjalan kaki, disepanjang perjalan, sandal yang saya pakai itu, menginjak paku pines, dan itu tidak saya sadari, karena tebalnya sandal yang saya pakai, sadarnya saya adalah saat waktu pulang sandal itu mau saya sol kan ke tukang sol sepatu, karena memang lemnya sandal itu sudah tidak kuat lagi, dan mesti di sol supaya kuat dan bisa dipakai kembali. Saat itu, yang saya lihat adalah ada 3 sekaligus paku pines yang menancap kuat di sandal yang saya pakai.
Karena pines inilah, saat duduk sambil menunggu sandal saya di sol oleh tukang sol sepatu, kemudian teringat dengan status tadi yaitu “Noto Ati Soko Sandal”. Kenapa saya langsung mengingatnya, disini saya langsung merenung dari kata-kata itu yang dikaitkan dengan kejadian sandal yang tentancap oleh pines tadi.
Sandal yang biasa kita pakai, kalau kita lihat, sungguh tidak bisa dibayangkan kalau barang yang kita semua miliki ini tidak ada, efeknya besar, kaki ini pastinya yang akan jadi tempat menempelnya paku pines itu tadi, dan sudah bisa kita bayangkan bagaimana dampaknya bagi diri kita.
Sandal, sebuah alat bantu bagi manusia, yang diletakkan pada bagian tubuh yang paling bawah, yaitu kaki, dia yang melindungi kita dari banyak hal yang membahayakan kita saat berjalan kaki, yang sekali lagi letaknya dibawah, tidak seperti cincin dari emas, mungkin yang kita pakai untuk kegagahan diri, tidak pula jam bermerek mungkin, yang selain penunjuk waktu tapi juga untuk gagahan.
Kalau kita bisa maknai filosofi sandal pada diri kita dan menerapkannya, sungguh sangat luar biasa, dengan relanya kita karena memang menjadi tanggungjawab kita untuk menjadi “jembatan” keselamatan banyak orang, terutama keluarga pastinya, yang siap dengan menginjak “lumpur” kehidupan, tertancap “paku pines” kehidupan, serta dengan kerendahan hati, seperti sandal yang letaknya ada di bawah sendiri, jauh dari bergagahan seperti layaknya cincin atau jam tangan kita.
Sekali lagi, sungguh saat ini saya sangat banyak belajar dari filosofi sebuah kata sederhana yaitu “Noto Ati Soko Sandal”, untuk bisa lebih banyak melakukan banyak hal yang berarti bagi diri, keluarga dan banyak orang dengan penuh kerendahan hati. Semoga kita semua menata hati dengan jauh lebih baik lagi, Amin……




Amin… semoga ya bang
aminnn…
iya bang saling berbagi bang buat semua..
makan”..
Salam super-
Salam hangat dari pulau Bali-
menarik sekali artikel anda…
sukses untuk Anda…
wah, mantab sekali renungannya, mas nopi. ternyata sandal pun bisa dijadikan sbg analogi kehidupan dalam menata hati.
Amin. Semoga semakin banyak calon patriot bangsa yang mau belajar dari sendal.
hmm…. berubah jadi seorang filosof yah??
mudah-mudahan banyak calon pemimpin di negeri ini yang mau belajar dari sandal dan mampu membawa perubahan ke arah yang lebih baik lagi.
sendal…jadi keingetan ma sendal yang sering ilang di pondok saya he….
info yg bagus
walaupun sandal dari emas, tempatnya tetep dibawah kan. tulisannya keren mas
Amien…moga semua orang bisa menata hatinya untuk menjadi lebih baik